BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Keragaman suku di Indonesia begitu besar, dengan ratusan
suku tersebar dari Sabang sampai Merauke. Salah satu suku besar yang memiliki
kebergaman budaya ialah Suku Dayak. Suku
Dayak adalah suku asli Kalimantan yang hidup berkelompok yang tinggal di
pedalaman, di gunung, dan sebagainya. Kelompok Suku Dayak, terbagi dalam sub-sub suku yang kurang lebih
jumlahnya 405 sub (menurut J. U. Lontaan, 1975). Masing-masing sub suku Dayak
di pulau Kalimantan mempunyai adat istiadat dan budaya yang mirip, merujuk
kepada sosiologi kemasyarakatannya dan
perbedaan adat istiadat, budaya, maupun bahasa yang khas. Kebudayaan suku
Dayak yang khas membentuk estetika yang tercermin dalam budaya dan keseniannya,
meliputi seni tari, seni musik, seni drama, seni rupa, dan sebagainya.
Ada pun salah satu budaya suku dayak yang hingga kini masih di jaga ialah Tari Ajat
Temuai Datai. Tarian yang berasal dari Dayak Mualang ini dulu nya dimaksudkan
sebagai suatu penghormatan kepada ksatria yang merupakan tamu yang diagungkan serta dianggap sebagai seorang yang
mampu menjadi pahlawan bagi kelompoknya. Hingga sekarang, tarian ini tetap
dibudayakan oleh suku dayak sebagi suatu penghormatan kepada tamu agung seperti
para panglima dan pejabat tinggi.
1.2 RUMUSAN MASALAH
1.
Apakah yang dimaksud dengan Tari Ajat
Temuai Datai?
2.
Bagaimana asal-usul ada nya Tari Ajat
Temuai Datai?
3.
Apa saja peralatan dan perlengkapan yang
diperlukan?
4.
Apa dan bagaimana proses penyambutan
Tari Ajat Temuai Datai?
1.3 TUJUAN
1.
Untuk mengetahui apa yang dimaksud
dengan Tari Ajat Temuai Datai
2.
Untuk mengetahui asalnya Tari Ajat
Temuai Datai
3.
Untuk mengetahui apa saja peralatan dan
perlengkapan yang diperlukan dalam menari
4.
Untuk mengetahui bagaimana proses
penyambutan Tarian Ajat Temuai Datai
1.4 MANFAAT
Manfaat
yang dapat diperoleh dari makalah Ilmu Sosial Budaya Dasar yang berjudul “Tari
Ajat Temuai Datai” mencakup beberapa hal yaitu pengertian, asal-usul Tari Ajar
Temuai Datai, berbagai peralatan dan perlengkapan yang mendasar dalam proses
tarian
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
PENGERTIAN TARI AJAT TEMUAI DATAI
Ajat Temuai Datai diangkat dari bahasa Dayak Mualang
(Ibanic Group), yang tidak dapat diartikan secara langsung, karna terdapat
kejanggalan jika di diartikan kata per kata. Tetapi maksudnya Ajat adalah
persembahan / permohonan dengan menggelar ritual atau Upacara adat, kemudian
Temuai artinya tamu dan Datai artinya datang. Jika disesuaikan dengan maksud
tarian yaitu: tari yang didalamnya terdapat upacara adat dalam prosesi
menyambut tamu atau tari Menyambut tamu. Tari ini bertujuan untuk penyambutan
tamu yang datang atau tamu agung (diagungkan).
2.2 ASAL-USUL TARIAN
Awal lahirnya kesenian ini yakni dari masa pengayauan /
masa lampau, di antara kelompok-kelompok suku Dayak. Mengayau, berasal dari
kata me dan ngayau. Me berarti melakukan aksi dan ngayau berati pemenggalan
kepala musuh, tindakan memenggal kepala musuh ( Mengayau terdapat dalam bahasa
Dayak Iban dan Ibanik, juga pada masyarakat Dayak pada umumnya ). Tetapi jika
mengayau mengandung pengertian khusus yakni suatu tindakan yang mencari
kelompok lainnya (musuh) dengan cara menyerang dan memenggal kepala lawannya (
mengayau terdiri dari berbagai macam adatnya di antaranya Kayau banyau / ramai
/ serang, Kayau Anak yaitu: Mengayau dalam kelompok kecil, Kayau Beguyap yaitu:
Mengayau tidak lebih dari tiga orang. Pada masyarakat Dayak Mualang dimasa
lampau para pahlawan yang pulang dari pengayauan dan membawa bukti hasil Kayau
berupa kepala manusia ( musuh ), merupakan tamu yang diagungkan serta dianggap
sebagai seorang yang mampu menjadi pahlawan bagi kelompoknya. Oleh sebab itu
diadakanlah upacara “Ajat Temuai Datai”. Masyarakat Dayak percaya bahwa pada
kepala seseorang menyimpan suatu semangat ataupun kekuatan jiwa yang dapat melindungi
si empunya dan sukunya.
Menurut J, U.
Lontaan (Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat 1974), ada empat tujuan
dalam mengayau yakni: untuk melindungi pertanian, untuk mendapatkan tambahan
daya jiwa, untuk balas dendam, dan sebagai daya tahan berdirinya suatu
bangunan. Setelah mendapatkan hasil dari mengayau, para pahlawan tidak boleh
memasuki wilayah kampungnya, tetapi dengan cara memberikan tanda dalam bahasa
Dayak Mualang disebut Nyelaing (teriakan khas Dayak) yang berbunyi
Heeih !, sebanyak tujuh kali yang berarti pahlawan pulang dan menang dalam
pengayauan dan memperoleh kepala lawan yang masih segar. Jika teriakan tersebut
hanya tiga kali berarti para pahlawan menang dalam berperang atau mengayau
tetapi jatuh korban dipihaknya. Jika hanya sekali berarti para pahlawan tidak
mendapatkan apa-apa dan tidak diadakan penyambutan khusus. Setelah memberikan
tanda nyelaing, para pengayau mengirimkan utusan untuk menemui pimpinan ataupun
kepala sukunya agar mempersiapkan acara penyambutan.
2.3 BENDA
SEREMONIAL (PERALATAN & PERLENGKAPAN)
Ada pun berbagai peralatan yang disiapkan atau digunakan
dalam tarian ini ialah sebagai berikut :
1.
Kostum tradisional
dayak
Dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan maupun ritual tradisionalnya,
Suku Dayak selalu mengenakan pakaian khusus sesuai dengan jenis upacara
tersebut. Pakaian
tradisional lelaki Iban terbahagi kepada dua iaitu kain sirat dan dandong. Kain
Sirat dikenali juga sebagai kain cawat merupakan pakaian asas kaum Iban. Sirat
dipakai dengan cara melilitnya dipinggang dan celah kelengkang. Sedangkan
pakaian tradisional wanita terbahagi kepada tiga jenis iaitu bidang, kalambi
dan bedong. Bidang merupakan sejenis kain sarung yang sempit dan panjangnya
cuma separas lutut. Baju kaum Iban yang dipanggil kalambi pula ada dua jenis
iaitu kalambi berlengan dan kalambi tanpa lengan. Wanita Iban juga memakai kain
selendang yang panjang dan sempit. Kain selempang ini dikenali sebagai bedong, yaitu ia dihiasi oleh reka corak tenunan
yang sangat halus.
Kostum atau pakaian yang digunakan oleh
penari corak nya bermacam-macam, namun tetap pada motif yang khas. Walaupun
motif dayak berbeda-beda, semua nya tetap didasarkan pada motif flora(tumbuhan),
fauna(binatang) dan engkeramba(tenun). Motif flora seperti ialah rotan, pucuk paku, pucuk rebung, buah-buahan,
biji benih dan bunga-bungaan. Motif fauna antara lain seperti motif buaya,
ular, katak, harimau dan tikus kasturi, rusa dan serangga. Serta motif engkeramba yang merupakan gambaran figura roh yang dikenali
sebagai engkaramba ditenun dengan teknik ikat. Motif ini dipercayai berkuasa
menghalang bencana atau kuasa jahat daripada menyerang tanam-tanaman dan
penghuni rumah panjang. Pada umum nya pakaian yang digunakan berwarna
merah dan hitam, ada pula berbagai warna lain yang digunakan ialah kuning,
putih, biru, hijau. Warna merah berarti berani, dan warna hitam berarti
keteguhan dan keabadian, warna kuning berarti keluhuran dan kesetiaan, warna
biru berarti ketenangan, warna putih berarti kesucian serta warna hijau berarti
kesuburan dan kemakmuran.
2.
Mandau
Mandau merupakan senjata utama dan
merupakan senjata turun temurun yang dianggap keramat. Bentuknya panjang dan
selalu ada tanda ukiran baik dalam bentuk tatahan maupun hanya ukiran biasa.
Mandau dibuat dari batu gunung, ditatah, diukir dengan emas/perak/tembaga dan dihiasi
dengan bulu burung atau rambut manusia. Mandau mempunyai nama asli yang disebut
“Mandau Ambang Birang Bitang Pono Ajun Kajau”, merupakan barang yang mempunyai
nilai religius, karena dirawat dengan baik oleh pemiliknya. Batu-batuan yang
sering dipakai sebagai bahan dasar pembuatan Mandau dimasa yang telah lalu
yaitu: Batu Sanaman Mantikei, Batu Mujat atau batu Tengger, Batu Montalat.
3.
Alat Musik
Adapun alat musik yang umumnya
digunakan ialah tawaq dan balikan/sapek. Tawaq merupakan merupakan alat musik untuk mengiringi tarian
tradisional masyarakat Dayak secara umum. Sedangkan balikan/sapek merupakan
alat musik petik tradisional dari Kapuas hulu dikalangan masyarakat Dayak
Kayaan Mendalam kabupaten Kapuas hulu. Pada masyarakat Uut Danum menyebutnya
Konyahpik (bentuknya) agak berbeda sedikit dengan Sapek.
4. Perisai
Perisai dayak merupakan suatu alat pertahanan diri bagi suku
dayak, sehingga sebenarnya bentuk dan ukiran-ukairan yang ada pada perisai pada
masanya, sangatlah jarang ditemukan karena fungsi dari perisai tersebut sebagai
alat pertahanan diri sewaktu diserang, namun sekarang perisai lebih digunakan
sebagai hiasan atau pajangan di rumah dan sekaligus sebagai identitas si
empunya, namun tak jarang pula perisai ini di pajang karena si empunya menyukai
keindahan dari perisai tersebut walaupun dia bukanlah seorang dayak, untuk
memperlihatkan makna perisai yang sebenarnya dibuatlah ukiran-ukiran yang
menarik dan memiliki arti, bahkan ada pula yang berpendapat ukiran pada perisai
memiliki makna mistis sehingga ukiran yg terkandung pada perisai tersebut mampu
melindungi pemakainya, atas dasar inilah perisai sangat disukai.
Kemudian
ada pun berbagai perlengkapan yang dibutuhkan lainnya ialah seperti anting,
gelang, mahkota, atupun tali yang ditenun untuk mengikat kepala serta tato
untuk memperindah penampilan. Para penari terkadang menggunaan mahkota yang
terbuat dari kulit kayu, manik-manik, bulu burung ruai dan kenyalang atau
perunggu. Bulu burung ruai ini diyakini sebagai suatu keindahan oleh suku dayak
iban, baik dalam bentuk tato maupun mahkota. Begitu juga dengan bulu burung
kenyalang yang berarti melambangkan keperkasaan dan pemujaan, yang sebelum nya
erat dengan budaya mengayau. Namun pada zaman dulu, makna tato pada tangan perempuan Kayan menandakan bahwa dia ketu runan seorang
bangsawan dan pada jari tangan laki-laki orang Iban menandakan bahwa dia
seorang satria pernah berperang. Adapun
pelengkap lain yang diperlukan ialah seperti beras, bambu, telur, batu yang
akan digunakan dalam prosesi penyambutan tamu agung.
2.4 Proses Tarian Penyambutan (Tarian)
Dalam tarian ini biasanya
jumlah penari nya sekitar 4-5 orang yaitu
ada penari (pemuda) yang berpakaian perang, membawa sumpit, berjalan di belakang
kelompok penari(wanita) mempertunjukan tarian selamat datang,
diriringi oleh tabuhan gong dan gendang. Ada pun Proses tarian (penyambutan) ini,
melalui empat babak yakni:
1.
Ngunsai Beras
Pada proses ini biasanya seorang ketua adat atau pemimpin
upacara menghamburkan beberapa beras kuning di depan para Ksatria Pahlawan atau pun tamu sambil membacakan doa
melalui perantaraan Sengalang Burong . Beras kuning adalah beras yang dilumuri dengan temu lawak, dan sebagai
tanda untuk mengundang Petara. Ini merupakan simbol kekuasaan dewa. Burung-burung
tersebut adalah: Papau, Ketupung, Beragai, Gemuas, Gegura’, Bejampung dan
Pangkas. Sengalang Burung adalah sebagai pembawa pesan; ia akan membawa pesan
apabila ia telah menerima pesan dari beras kuning. Sedangkan beras kuning
adalah penerima pesan pertama dari orang yang membacakan
mantra. Proses penyampaian pesannya sebagai berikut: dari Manusia—>ke beras
kuning—>ke Sengalang Burung—>ke Petara—>Petara datang menghadiri
upacara. Sengalang Burung
sebagai pembawa berita,
menyampaikan berita pada Petara, mengundangnya turun ke bumi dan hadir dalam
upacara.
2.
Mancong Buloh
Pada proses ini para penari membentuk lingkaran
mengelilingi tamu dan pemimpin upacara. Sedangkan Tamu
agung atau ksatria yang menebaskan mandau / nyabor untuk memutuskan bambu (simbol
pembatas) yang sengaja dilintangkan atau di empang di pintu masuk wilayah rumah
panjai atau tempat dimana tamu atau ksatria tersebut datang. Setelah itu tamu menghadap
sebuah talam yang berisi air yang bermakna kehidupan
yang sejuk dan nyaman, tengang (akar kayu, tali yang kuat)
dan tenayang tengang (alat untuk membuat tengang) yang menyimbolkan kekuatan
dan umur yang panjang, batu: menyimbolkan kekuatan dan
kekerasan. Mengartikan badan yang kuat dan pribadi yang teguh; tidak mudah
dikalahkan atau mati; tidak mudah dipengaruhi oleh roh jahat, dsb, lalu nasi yang menjadi makanan pokok memberikan
kehidupan dan rejeki, telur: menyimbolkan
perlindungan dan dilindungi; seperti isi telur yang berada di dalam dan
dilindungi oleh sel nya, rotan
Sega’:
rotan yang panjang dan kuat, menyimbolkan hidup yang panjang dan kuat, serta tali tengang dan mpalaga (batu merah yang halus)
diikatkan pada tangan kanan si tamu. Tengang menyimbolkan kehidupan yang kuat
dan panjang. Mpalaga menyimbolkan kemurnian pikiran. Si tamu
meletakkan kakinya di atas batu, dan pemimpin upacara meletakkan tetesan air
dari batu tersebut pada kepala tamu dan berkata: “Semoga
hidup anda senang bahagia dan mempunyai kesehatan yang baik”. Setelah itu pemimpin
upacara meminta tamu untuk minum segelas beram atau tuak. Bagian ini
menyimbolkan persahabatan, keramahtamahan dan persatuan.
3.
Ngajat Ngiring Temuai
Kemudian para penari mengiringi tamu ataupun memandu tamu
sampai kedepan tangga naik Rumah Panjai ( rumah panggung yang panjang ) proses
ngiring temuai ini dilakukan dengan cara menari dan tarian ini dinamakan Ngajat
Ngiring Temuai.
4.
Tama’ Bilik
Dalam proses ini tamu memasuki rumah panjai atau masuk ke
tempat tertentu setelah merendam kakinya pada sebuah batu di dalam sebuah wadah
sebagai simbol pencelap semengat. Sementara
berjalan, pemimpin upacara menghamburkan nasi sepanjang jalan
masuk ke rumah. Hal ini menyimbolkan pembersihan jalan, menyingkirkan segala
yang jahat: roh jahat dan maksud jahat lainnya. Inilah bagian
terakhir dari upacara.
Setelah melalui prosesi babak diatas, maka tamu diijinkan
naik ke rumah panjang dengan maksud menyucikan diri dalam upacara yang disebut
Mulai Semengat ( mengembalikan semangat perang ). Kemudian baru diadakan Gawai
pala' acara ini untuk menghormati kepala hasil kayau, dan dalam acara ini
terdapat beberapa tarian yang disebut: Tari Ayun Pala, Tari Pedang dll.
BAB III
PENUTUP
3.1
KESIMPULAN
Tari Ajat Temuai Datai terdiri dari beberapa kata dalam
pengertiannya, yaitu Ajat yang berarti persembahan / permohonan dengan
menggelar ritual atau Upacara adat, kemudian Temuai artinya tamu dan Datai
artinya datang. Jika disesuaikan dengan maksud tarian yaitu: tari yang
didalamnya terdapat upacara adat dalam prosesi menyambut tamu atau tari
Menyambut tamu. Tari ini bertujuan untuk penyambutan tamu yang datang atau tamu
agung (diagungkan), yang awal mula nya dimaksud kan untuk menyambut para
ksatria dayak yang telah ikut mengayau (tindakan yang mencari kelompok
lainnya/musuhdengan cara menyerang dan memenggal kepala lawannya) berarti
sebagai suatu kehormatan. Masyarakat Dayak percaya bahwa pada kepala seseorang
menyimpan suatu semangat ataupun kekuatan jiwa yang dapat melindungi si empunya
dan sukunya.
3.2
SARAN (TANGGAPAN)
Tarian Ajat Temuai Datai merupakan suatu budaya yang
mengandung nilai sosial, seni dan sakral. Seperti yang kita ketahui, menyambut tamu, merupakan
salah satu tanda kehidupan sosial yang menunjukan keramah tamahan, rasa hormat
dan persahabatan dan pada sisi seni mereka telah memiliki kesenian dan
kerajinan tangan seperti: tarian ini sendiri, ukiran dan tenunan yang mereka gunakan. Dari sisi sakral
,mereka percaya pada Penguasa/dewa yang mereka sebut Petara yang mereka hormati
dan mereka sembah melalui cara-cara yang unik dengan berbagai macam simbol
pemujaan. Tarian ini dapat menjadi tambahan wawasan kita dalam proses belajar
seperti bagaimana kita bersikap, menghormati sesama manusia dan kepercayaan
kita.
Pola lantai'nya kok gak ada
BalasHapus