BAB
I
PENDAHULUAN
1.
Latar
belakang
Indonesia sebagai negara yang
sedang membangun, ingin mencoba untuk dapat membangun bangsa dan negaranya
sendiri tanpa memperdulikan bantuan dari negara lain. Namun ternyata Indonesia
sulit untuk terus bertahan ditengah derasnya laju globalisasi yang terus
berkembang dengan cepat tanpa mau menghiraukan bangsa yang lain yang masih
membangun. Dalam kondisi seperti ini, Indonesia akhirnya terpaksa mengikuti
arus tersebut, mencoba untuk membuka diri dengan berhubungan lebih akrab dengan
bangsa lain demi menunjang pembangunan bangsanya terutama dari sendi ekonomi
nasionalnya. Namun, pada satu titik
tertentu, perekonomian Indonesia akhirnya runtuh oleh terjangan krisis ekonomi
yang melanda secara global di seluruh dunia. Ini ditandai dengan tingginya
angka inflasi, nilai kurs Rupiah yang terus melemah, tingginya angka
pengangguran seiring dengan kecilnya kesempatan kerja, dan ditambah lagi dengan
semakin membesarnya jumlah utang luar negeri Indonesia akibat kurs Rupiah yang
semakin melemah karena utang luar negeri Indonesia semuanya dalam bentuk US
Dollar.
Permasalahan yang masih tidak dapat diselesaikan sampai saat ini adalah
korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) yang terlalu tinggi di Indonesia, sumber
daya manusia Indonesia kurang kompetitif, jiwa entrepreneurship yang kurang,
dan sebagainya. Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa. utang luar negeri
turut mendukung terjadinya krisis ekonomi di Indonesia pada pertengahan tahun
1997. Pada dasarnya, dalam proses pelaksanaan pembangunan ekonomi di negara
berkembang seperti di Indonesia, akumulasi utang luar negeri merupakan suatu
gejala umum yang wajar. Hal tersebut disebabkan tabungan dalam negeri yang
rendah tidak memungkinkan dilakukannya investasi yang memadai sehingga banyak
pemerintah negara yang sedang berkembang harus menarik dana dan pinjaman dari
luar negeri. Selain itu, defisit pada neraca perdagangan barang dan jasa yang
tinggi berhubungan juga dengan dilakukannya impor modal untuk menambah sumber
daya keuangan dalam negeri yang terbatas. Bagi negara berkembang termasuk
Indonesia, pesatnya aliran modal merupakan kesempatan yang bagus guna
memperoleh pembiayaan pembangunan ekonomi. Dimana pembangunan ekonomi yang
sedang dijalankan oleh pemerintah Indonesia merupakan suatu usaha berkelanjutan
yang diharapkan dapat mewujudkan masyarakat adil dan makmur sesuai dengan
Pancasila dan UUD 1945, sehingga untuk dapat mencapai tujuan itu maka
pembangunan nasional dipusatkan pada pertumbuhan ekonomi. Namun karena
keterbatasan sumber daya yang dimiliki (tercermin pada tabungan nasional yang
masih sedikit) sedangkan kebutuhan dana untuk pembangunaan ekonomi sangat
besar. Maka cara untuk mencapai pertumbuhan ekonomi itu adalah dengan berusaha melakukan
peminjaman dana kepada Negara yang telah maju, seperti Jepang, Amerika, China, Inggris,
Jerman dll. Hal tersebut lah yang juga menjadi dasar atas peminjaman atau Utang
Luar Negeri yang saat ini mencapai Rp. 2,983 T hingga dapat dikatakan bahwa
pertumbuhan Indonesia kini melambat. Meskipun utang tersebut juga berasal dari
jaman pemerintahan saat Indonesia mulai merdeka dan dalam pergantian sistem
ekonomi yang berbeda, sampai saat ini masalah tersebut belum dapat tertangani.
Untuk itu ada beberapa solusi yang sekiranya dapat menjadi perhatian
pemerintah.
2.
Permasalahan
Ada pun masalah dalam makalah yang
berjudul “ Utang Luar Negeri dan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia ” ialah :
a. Apakah
yang dimaksud dengan Utang Luar Negeri (ULN)?
b. Mengapa
terjadi (sebab) Utang Luar Negeri?
c. Bagaimana
perkembangan Utang Luar Negeri Indonesia?
d. Apakah
Dampak Utang Luar Negeri?
e. Bagaimanakah
cara mengatasi atau mengurangi Utang Luar Negeri?
3.
Tujuan
a.
Untuk mengetahui pengertian Utang Luar
Negeri
b.
Untuk mengetahui penyebab Utang Luar
Negeri
c.
Untuk mengetahui bagaiman perkembangan
Utang Luar Negeri Indonesia sampai saat ini
d.
Untuk mengetahui dampak yang timbul
akibat dari Utang Luar Negeri
e.
Untuk mengetahui cara / solusi dalam
mengatasi atau mengurangi Utang Luar Negeri
4.
Manfaat
Dengan adanya
makalah ini diharapkan kepada rekan-rekan mahasiswa/i atau pembaca dapat
mengetahui bagaiman dampak dan perkembangan dari Utang Luar Negeri serta cara
untuk mengatasi nya.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Utang Luar Negeri (ULN)
Utang
atau dalam konteks ini utang negara berdasarkan Undang-Undang nomor 1 tahun
2004 merupakan jumlah uang yang wajib dibayar pemerintah pusat dan/atau
kewajiban pemerintah pusat yang dapat dinilai dengan uang berdasarkan peraturan
perundang-undangan yang berlaku, perjanjian, atau berdasarkan sebab lain yang
sah. Namun dapat diartikan juga bahwa Utang
luar negeri atau pinjaman luar negeri, adalah sebagian dari
total utang suatu negara yang diperoleh dari para kreditor di luar negara tersebut. Penerima utang luar
negeri dapat berupa pemerintah, perusahaan, atau perorangan. Bentuk utang dapat
berupa uang yang diperoleh dari bank swasta, pemerintah negara lain, atau lembaga keuangan internasional
seperti IMF dan Bank Dunia. Utang
sering kali menjadi permasalahan yang pelik dalam lingkup nasional, karena
telah tertanam dalam benak mayoritas masyarakat sebuah doktrin general yang
memberikan sinyal buruk terhadap utang, khususnya utang negara. Namun ternyata
utang merupakan salah satu bagian penting dalam menetapkan kebijakan fiskal
(APBN) dimana juga merupakan begian dari suatu sistem besar yang disebut
pengelolaan ekonomi.
B. Penyebab Utang Luar
Negeri
Utang
Luar Negeri telah ada sejak dari . Namun seperti yang diakatakan pada beberapa
waktu lalu, adapun yang membuat utang luar negeri Indonesia kian bertambah
ialah karena adanya pinjaman dan pembangunan dari perusahaan swasta hingga mencapai
Rp 2.983 triliun pada juli 2013 lalu. Utang Luar Negeri yang makin
bertambah dari waktu ke waktu dikarenakan :
a. Rajin terbitkan obligasi
Kepala divisi riset BEI, Poltak
Hotradero menyebutkan, utang perusahaan di Indonesia maupun pemerintah terus
tumbuh tinggi. Salah satunya karena rajin menerbitkan obligasi atau surat
utang.Dalam catatan Poltak, pertumbuhan surat utang pemerintah tahun lalu
mencapai 72 persen dari USD 53 miliar di 2011 menjadi USD 94 miliar di 2012.
Angka ini sangat jauh dibandingkan dengan negara-negara tetangga lainnya
seperti Malaysia, dan Singapura.Sementara untuk obligasi korporasi, secara
persentase tumbuh sangat tinggi. Mencapai 697 persen. Namun masih kecil jika
dilihat dari sisi nominal atau jumlah.
b.
APBN selalu defisit
Membengkaknya alokasi anggaran untuk subsidi
bahan bakar minyak (BBM) tahun ini, membuat pemerintah terpaksa mengeluarkan
instrumen Surat Berharga Negara (SBN) untuk menutupi kekurangan pada anggaran
negara. Anggaran subsidi yang membengkak berpotensi menggelincirkan asumsi
defisit menjadi di atas dua persen lebih dari rencana awal 1,65 persen.
Melesetnya defisit membuat beban fiskal negara semakin berat. Skema yang
diambil untuk menutupi defisit ini ialah dengan menerbitkan Surat Berharga
Negara (SBN).
c.
Pendapatan
Negara yang rendah
Alasan lain yang kerap disampaikan
pemerintah terkait terus tergantung pada utang adalah kontribusi rakyat melalui
pembayaran pajak terhadap negara, terbilang kecil. Dengan kata lain, makin
besar pajak yang dibayar rakyat, semakin rendah ketergantungan negara terhadap
utang. Sejak krisis ekonomi global akhir
2008, rasio pajak terhadap PDB nasional belum pernah menyentuh 13 persen. Tahun
ini, rasio pajak ditargetkan mencapai 12,86 persen terhadap PDB.
d.
Kebutuhan
proyek infrastruktur
Dalam pembangunan sarana dan prasarana
negeri ini, pemerintah masih mengandalkan pinjaman dari luar negeri. Salah satu
alasannya, anggaran negara tidak bisa sepenuhnya digunakan untuk pembangunan
infrastruktur. Selama ini pembiayaan infrastruktur dari dana APBN terdapat
instrumen utang di dalamnya. Langkah pengurangan utang ini salah satunya dengan
mendorong perusahaan-perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk membangun
infrastruktur sehingga nantinya pembangunan tidak lagi mengandalkan utang.
Namun pada kenyataannya, proyek yang memakan jumlah dana yang besar tersebut
masih belum sesuai dengan penilaian masyarakat yang merasa arus lalu lintasnya
tidak terakomodasi dengan baik. Dapat kita lihat pula, masih banyak jalan yang
jelek.
e.
Tidak menyadari secara
penuh biaya yang harus ditanggung di masa depan
Perusahaan swasta maupun negeri yang membuat hutang kian bertambah,
tampaknya tidak menyadari akan biaya atau dana yang di pinjamnya untuk di masa
depan. Dengan jumlah cakupan pinjaman yang besar, tentu saja tidak mudah bagi
Indonesia untuk membayarnya meskipun pemerintahan berubah dan berganti pada
periode tertentu. Melihat keadaan seperti ini,
dapat dikatakan bahwa Indonesia sebagai negara debitor justru mensubbsidi negara-negara kaya yang
menjadi kreditornya dan seperti di jajah.
f.
Adanya faktor
sosial politik dari penentu kebijakan.
Faktor sosial dan politik lebih
dominan dibanding faktor ekonomi dalam melakukan utang. Hal ini dapat kita lihat bahwa masih banyak pejabat Negara yang melakukan
KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme). Dana yang seharusnya untuk membantu
menyejahterakan kehidupan rakyat, masuk pada saku pribadi. Padahal dana
tersebut adalah pinjaman dari Negara maju
g.
Gaji PNS terus naik
Setiap
tahun, pemerintah tidak pernah absen menaikkan gaji pegawai negeri sipil (PNS).
Kebijakan itu dinilai semakin memperbanyak utang Indonesia.Forum Indonesia
untuk Transparansi Anggaran (FITRA) menyatakan pemerintah dalam menaikkan gaji
PNS sangat memberatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pasalnya,
setiap gaji PNS naik juga berdampak padapenambahan anggaran seperti untuk dana
pensiun dan tabungan hari tua. Direktur Investigasi dan Advokasi FITRA, Uchok
Sky Khadafi mengungkapkan kebutuhan dana yang cukup besar ini biasanya ditutup
pemerintah melalui jalur utang.? "Jadi PNS naik gajinya, negaranya semakin
banyak utang. Adapun yang menjadi sumber pinjaman luar Negeri dalam Pembangunan Indonesia yaitu World Bank, Asian Development Bank (ADB) ,Consultative Group on
Indonesia ( CGI ), Pinjaman di Luar IGGI/CGI Pinjaman/hibah lainnya , serta bantuan dari Negara maju.
C. Perkembangan Utang
Luar Negeri Indonesia
Selama
lima tahun terakhir ini, utang luar negeri Pemerintah Indonesia meningkat
tajam. Data Bank Indonesia tahun 2012 menyatakan, jika tahun 2006 total utang
luar negeri Indonesia sebesar 132,63 miliar dollar AS, pada 2011 utang luar
negeri Indonesia telah membengkak menjadi 221,60 miliar dollar AS. Oleh sebab
itu, rakyat harus mewaspadai perkembangan utang luar negeri tersebut. Besarnya
jumlah utang Indonesia ternyata tidak menunjukkan korelasi signifikan terhadap
kualitas pertumbuhan ekonomi yang indikatornya ditunjukkan oleh perbaikan
kualitas pelayanan dasar kepada masyarakat, dapat dicontohkan infrastruktur
energi dan transportasi, pendidikan, serta kesehatan yang masih minim dan
terbatas. Posisi indeks pembangunan manusia Indonesia masih lebih rendah
dibandingkan dengan Thailand dan Malaysia. Begitu juga dengan daya saing dan
kemudahan melakukan usaha atau doing business (melakukan bisnis), itu juga
masih lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara tersebut.m Pada penelitian
lainnya, utang
luar negeri indonesia terus mengalami peningkatan tajam, khususnya utang
pemerintah. Apabila pada tahun 2006 total pinjaman luar negeri mencapai 132,63
miliar dolar dan pada tahun 2012 kuartal pertama telah mencapai 221, 60 miliar
dolar. Dalam rupiah pinjaman indonesai salam 3 tahun terakhir tercatat pada
tahun 20120 Rp 1.667 triliun, pada tahun 2011 Rp 1.803 triliun dan pada tahun
2012 Rp 1937 triliun. Perkembangan utang sedemikian cepat jelas bukan
pengelolaan keuangan negara yang baik. Ironisnya, dalam situasi seperti
sekarang ini pemerintah masih ingin menambah utang luar negeri sebesar 45 triliun lagi. Pinjaman ini diperuntukan menghadapi
krisis eropa yang memungkinkan semakin berbahaya. Karena pada dasarnya utang
luar negeri baik oleh swasta maupun pemerintah memiliki resiko terhadap
masyarakat. Dan masyarakat melakukan pembayaran utang tersebut melalui
pajak.Sampai sekarang pun masyarakat terus menanggung bunga utang obligasi
tersebut. Namun, apabila uang dari utang luar negeri digunakan untuk
infrastruktur atau kegiatan produktif yang lain pasti perekonomian Indonesia
jauh lebih sehat dari saat ini. Karena utang luar negeri yang tidak
terkendalisama artinya mengambil hak-hak generasi mendatang. Anak cucu kita
yang tidak tahu menahu harus menanggung beban utang yang dilakukan saat ini.
Pinjaman
luar negeri Indonesia memang dinilai masih aman oleh bank dunia, karena
menunjukkan penurunan rasio terhadap pendapatan nasional. Rasio pinjaman luar
negeri terhadap pendapatan nasional saat ini diperkirakan sekitar 28,2%.
Artinya jumlah utang lebih dari seperempat nilai barang dan jasa yang
dihasilkan di Indonesia selama setahun. Ini lebih baik jika dibandingkan dengan
Amerika Serikaat (69,4%), Inggris (79,5%), dan italia (120,1%). Dari
permasalahan diatas apakah negara Indonesia berarti aman jika kita terus
berutang, karena angka-angka rasio menunjukkan penurunan dan jauh lebih baik
rencah dibandingkan beberapa negara maju.Tentu saja tidak, negara maju saja
menghadapi situsi ekonomi tidak menentu akibat utang, apalagi Indonesia.Bahkan
harus disadari bahwa perekonomian Indonesia tidak memiliki landasan yang kokoh
seperti di negara-negara maju.Bangsa ini harus memahami jika ekonomi Indonesia
tidak memiliki pondasi yang kuat. Bukankah selama ini misalkan kita masih
bergantung pasa ekspor tambang dan mineral seperti gas dan batu bara, komoditas
perkebunan seperti karet, coklat, dan kopi, serta ditopang oleh sektor keuangan
yang didominasi asing. Disisi lain, kita tidak memiliki sektor industri yang
kuat. Artinya perekonomian Indonesia sangat mudah terkoreksi oleh penurunan
harga komoditas, menurunnya permintaan luar negeri atau adannya pelarian modal
ke luar negeri bahkan penurunan nilai tukar rupiah. Pemerintah berperan langsung terhadap pembangunan
nasional Indonesia dalam upaya menciptakan pertumbuhan ekonomi menuju
masyarakat makmur. Pemerintah membutuhkan dana pembiayaan yang besar, baik yang
berasal dari dalam negeri berupa tabungan masyarakat, tabungan swasta dan
tabungan pemerintah, sedangkan yang berasal dari luar negeri adalah berupa
bantuan hibah (grant), pinjaman luar negeri dan penanaman modal asing
(Kamaluddin; 1989).
Bantuan
luar negeri dapat memainkan peranan yang sangat penting dalam usaha negara yang
bersangkutan guna mengurangi kendala utamanya yang berupa kekurangan devisa,
serta untuk mempertinggi tingkat pertumbuhan ekonominya. Utang luar negeri
sendiri sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi, karena dengan adanya
utang pasti secara otomatis akan ketergantungan. Karena setiap negara yang
utang ke luar negeri pastinya bertujuan untuk memperbaiki kondisi, pembangunan,
dan pertumbuhan perekonomian agar semakin membaik.Namun, pada kenyataannya
pertumbuhan perekonomian di Indonesia statis dan utang pun semakin menumpuk. Perkembangan
utang luar negeri sendiri tahun 2012 semakin meningkat hingga mencapai Rp 1.937
Triliun. Seperti beberapa hari lalu, pemerintah
telah menawarkan obligasi negara ritel seri ORI010 sejak 20 September 2013
hingga 4 Oktober 2013. Jatuh tempo penerbitan obligasi ini pada 15 Oktober 2016
dengan tingkat kupon 8,50 persen yang dibayarkan per bulan. Dirjen Pengelolaan
Utang Kementerian Keuangan (Robert Pakpahan) mengatakan, penerbitan obligasi
ini dilakukan untuk menutup pembiayaan negara serta melakukan edukasi
masyarakat individu untuk belajar investasi. Realisasi penawaran ORI010 ini
telah mencapai Rp 20,205 triliun. "Realisasi penawaran dan hasil penjualan
cleaning data ada 38.860 pemesanan dari investor dengan nilai Rp 20,205
triliun. Serta ada sebanyak 26.824 investor baru dari 38.860. Dikatakan pula
bahwa penerbitan obligasi ini masih menarik minat masyarakat. Indikatornya,
pemesanan di seluruh agen perbankan maupun sekuritas mencapai Rp 24,275
triliun. Namun setelah dilakukan cleaning data ada satu investor yang memesan
lebih dari Rp 3 miliar sehingga tidak diperbolehkan. Dari obligasi kali ini
kelompok masyarakat swasta memesan 26,04 persen, wiraswasta 22,01 persen, ibu
rumah tangga 14,95 persen, PNS dan TNI 7,05 persen serta lain lain 26,94 persen.
Ada pun utang luar negeri Indonesia selama 5 tahun terakhir sebagai berikut
ditunjukan dalam diagaram dengan Produk
Domestik Bruto (PDB) yang merupakan indikator ekonomi yang paling penting
karena perannya dalam analisis keadaan ekonomi suatu bangsa.
Diagram 1
Utang
Pemerintah Pusat dan Rasio Utang nya Terhadap PDB
Tahun
2008-April 2013 (Dalam Triliun)

Sumber : Ditjen Pengelolaan Utang
Kemenkeu
-
Tahun 2008: Rp 1.636,74 triliun (33%)
-
Tahun 2009: Rp 1.590,66 triliun (28%)
-
Tahun 2010: Rp 1.676,15 triliun (26%)
-
Tahun 2011: Rp 1.803,49 triliun (25%)
-
Tahun 2012: Rp 1.975,42 triliun (27,3%)
-
April 2013: Rp 2.023,72 triliun (24%)
Hingga April 2013, utang pemerintah Indonesia bertambah Rp 48 triliun
menjadi Rp 2.023,72 triliun, dibandingkan posisi akhir 2012 Rp 1.975,42
triliun. Secara rasio terhadap PDB total di 2012, utang pemerintah Indonesia
berada di level 24% hingga April 2013. Jika dihitung dengan denominasi dolar
AS, jumlah utang pemerintah hingga Maret 2013 mencapai US$ 208,16 miliar, naik
dari posisi di akhir 2012 yang mencapai US$ 204,28 miliar. Utang pemerintah di
April 2013 tersebut terdiri dari pinjaman Rp 581,49 triliun, menurun dibanding
akhir 2012 Rp 614,32 triliun. Kemudian berupa surat berharga Rp 1.442,23
triliun, atau naik dibanding 2012 sebesar Rp 1.361,1 triliun. Jika menggunakan
PDB Indonesia yang sebesar Rp 8.241,9 triliun, maka rasio utang Indonesia
hingga akhir Maret 2013 sebesar 24%. Sementara rincian pinjaman yang diperoleh
pemerintah pusat hingga April 2013 adalah:
- Bilateral: Rp 329,46 triliun
- Multilateral: Rp 225,43 triliun
- Komersial: 24,43 triliun
- Supplier: Rp 340 miliar
- Pinjaman dalam negeri: Rp 1,82 triliun
D.
Dampak Utang Luar Negeri
a. Sisi
efektifitas, secara internal, utang luar negeri menghambat tumbuhnya
kemandirian ekonomi negara. Serta pemicu terjadinya kontraksi belanja sosial,
merosotnya kesejahteraan rakyat, dan melebarnya kesenjangan.
- Secara eksternal, utang
luar negeri menjadi pemicu meningkatnya ketergantungan negara pada modal
asing, dan pada pembuatan utang luar negeri secara
berkesinambungan .
- Sisi kelembagaan,
lembaga-lembaga keuangan multilateral diyakini telah bekerja sebagai
kepanjangan tangan negara-negara Dunia Pertama pemegang saham utama
mereka, untuk mengintervensi negara-negara penerima pinjaman.
- Sisi ideologi, utang
luar negeri diyakini telah dipakai oleh negara-negara pemberi pinjaman,
terutama Amerika, sebagai sarana untuk menyebarluaskan kapitalisme
neoliberal ke seluruh penjuru dunia.
- Sisi implikasi sosial
dan politik, utang luar negeri sebagai sarana yang sengaja dikembangkan
oleh negara-negara pemberi pinjaman untuk mengintervensi negara-negara
penerima pinjaman.
E.
Solusi Dalam Mengatasi atau Mengurangi Utang Luar
Negeri
Solusi
yang dapat dijalankan untuk mengatasi Utang Luar Negeri ialah
:
1) Meningkatkan daya beli masyarakat yakni melalui pemberdayaan ekonomi pedesaan dan pemeberian modal usaha kecil seluasnya.
2) Taat membayar pajak dan digunakan untuk hal yang semestinya
3) Menggunakan biaya seminim mungkin
4) Konsep bangunan yang tidak berlebihan
5) Bangga akan produk dalam negri sehingga minat pembeli tinggi
6) Mengembangkan sumber daya berkualitas dan menempatkan kesejahteraan yang berkeadilan dan merata.
1) Meningkatkan daya beli masyarakat yakni melalui pemberdayaan ekonomi pedesaan dan pemeberian modal usaha kecil seluasnya.
2) Taat membayar pajak dan digunakan untuk hal yang semestinya
3) Menggunakan biaya seminim mungkin
4) Konsep bangunan yang tidak berlebihan
5) Bangga akan produk dalam negri sehingga minat pembeli tinggi
6) Mengembangkan sumber daya berkualitas dan menempatkan kesejahteraan yang berkeadilan dan merata.
BAB III
PENUTUP
1. KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan
bahwa Utang luar negeri atau pinjaman luar negeri, adalah sebagian
dari total utang suatu negara yang diperoleh dari para kreditor di luar negara tersebut. Hal tersebut
dikarenakan oleh rajin
menerbitkan obligasi atau surat utang, APBN yang selalu defisit, kebutuhan
negara yang rendah, kebutuhan proyek infrastruktur, tidak menyadari akan biaya
atau dana yang di pinjamnya untuk di masa depan, faktor sosial politik dari penentu kebijakan Faktor sosial dan politik
lebih dominan dibanding faktor ekonomi dalam melakukan utang, serta gaji PNS
yang terus naik.
Dalam hal ini dampak yang dialami
akibat utang luar negeri adalah pada sisi efektivitas secara internal dan
eksternal, Pandangan yang pro mengatakan bahwa utang luar
negeri telah terbukti memberikan sumbangan yang berarti bagi pembangunan di negara-negara
berkembang. Sedangkan
pandangan yang kontra berpendapat, utang luar negeri justru menciptakan
ketergantungan baru yang berimplikasi luas, baik ekonomi maupun politik. Solusi
yang dapat dijalankan untuk mengatasi Utang Luar Negeri ialah
:
meningkatkan daya beli masyarakat yakni melalui pemberdayaan ekonomi pedesaan dan pemeberian modal usaha kecil seluasnya, taat membayar pajak dan digunakan untuk hal yang semestinya, menggunakan biaya seminim mungkin, konsep bangunan yang tidak berlebihan, bangga akan produk dalam negri sehingga minat pembeli tinggi, mengembangkan sumber daya berkualitas dan menempatkan kesejahteraan yang berkeadilan dan merata. Pertumbuhan indonesia saat ini dapat dikatakan melambat, infrastruktur dan prastrukturnya belum memadai sedangkan kinerja proyek-proyek atas pejabat pemerintah telah menggunakan dana yang cukup besar.
meningkatkan daya beli masyarakat yakni melalui pemberdayaan ekonomi pedesaan dan pemeberian modal usaha kecil seluasnya, taat membayar pajak dan digunakan untuk hal yang semestinya, menggunakan biaya seminim mungkin, konsep bangunan yang tidak berlebihan, bangga akan produk dalam negri sehingga minat pembeli tinggi, mengembangkan sumber daya berkualitas dan menempatkan kesejahteraan yang berkeadilan dan merata. Pertumbuhan indonesia saat ini dapat dikatakan melambat, infrastruktur dan prastrukturnya belum memadai sedangkan kinerja proyek-proyek atas pejabat pemerintah telah menggunakan dana yang cukup besar.
2. SARAN
Seharusnya
pemerintah dan direktorat keuangan harus memberikan landasan hukum yang kuat,
manajemen pengelola hutang yang baik, dan kerja pemerintah yang lebih tertata
baik dalam tindakan maupun penggunaan dana atas pinjaman dari luar negeri.
DAFTAR PUSTAKA
Berita Resmi
Statistik, 2013. (Online), http://www.bps.go.id/aboutus.php?news=1&nl=1. Diakses
tanggal 5 Oktober 2013
Realisasi Pengeluaran
Negara, 2013. (Online),
http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?tabel=1&daftar=1&id_subyek=13¬ab=2. Diakses tanggal 5 Oktober 2013
Berutu, I. 8 Juni 2013.
(Online), http://www.slideshare.net/irvandberutu/permasalahan-utang- luar-negeri-indonesia. Diakses tanggal 5 Oktober 2013-10-08
Baru pinjaman Penawaran !
BalasHapusIni adalah kesempatan pinjaman tanpa jaminan baru lagi, apakah Anda mengalami kerugian finansial? Apakah bisnis Anda menangis demi kebangunan rohani, apakah Anda mencari pinjaman di bank dan tangan pemberi pinjaman yang salah dan Anda di mana menolak? Tidak mencari lagi, Kami adalah pemberi pinjaman yang dapat dipercaya yang menawarkan dari $ 2.000 ke $ 500.000.000, dan kami memprakarsai program pinjaman ini untuk memberantas kemiskinan dan menciptakan kesempatan untuk mendapatkan hak istimewa untuk memungkinkan mereka membangun bisnis mereka sendiri dan menghidupkan kembali bisnis mereka. Untuk informasi lebih lanjut, Anda bisa menghubungi kami melalui email: gloryloanfirm@gmail.com dan isi formulir di bawah ini.
DATA BORROWER
1) Nama Lengkap: ......... 2) Negara: ...... 3) Alamat: ......... 4) Jenis Kelamin: ..................
5) Status Perkawinan: ... ..... 6) Pekerjaan: .......... 7) Nomor Telepon: ........................... 8) Saat ini posisi di tempat kerja: .... ............ 9) bulanan ...... ...................
10) Durasi Pinjaman: ............... 11) Tujuan Pinjaman: ............... 12) Agama: ............
13) Tanggal lahir: ........................
Mohon melamar perusahaan yang sah, kesuksesan anda adalah tujuan kami.