Selasa, 12 November 2013

ISBD_ Tari Ajat Temuai Datai Dayak Mualang (Ibanic)





BAB I
PENDAHULUAN
1.1  LATAR BELAKANG
Keragaman suku di Indonesia begitu besar, dengan ratusan suku tersebar dari Sabang sampai Merauke. Salah satu suku besar yang memiliki kebergaman budaya ialah Suku Dayak. Suku Dayak adalah suku asli Kalimantan yang hidup berkelompok yang tinggal di pedalaman, di gunung, dan sebagainya.  Kelompok Suku Dayak, terbagi dalam sub-sub suku yang kurang lebih jumlahnya 405 sub (menurut J. U. Lontaan, 1975). Masing-masing sub suku Dayak di pulau Kalimantan mempunyai adat istiadat dan budaya yang mirip, merujuk kepada sosiologi kemasyarakatannya dan perbedaan adat istiadat, budaya, maupun bahasa yang khas. Kebudayaan suku Dayak yang khas membentuk estetika yang tercermin dalam budaya dan keseniannya, meliputi seni tari, seni musik, seni drama, seni rupa, dan sebagainya.
Ada pun salah satu budaya suku dayak yang hingga kini masih di jaga ialah Tari Ajat Temuai Datai. Tarian yang berasal dari Dayak Mualang ini dulu nya dimaksudkan sebagai suatu penghormatan kepada ksatria yang merupakan tamu yang diagungkan serta dianggap sebagai seorang yang mampu menjadi pahlawan bagi kelompoknya. Hingga sekarang, tarian ini tetap dibudayakan oleh suku dayak sebagi suatu penghormatan kepada tamu agung seperti para panglima dan pejabat tinggi.

1.2  RUMUSAN MASALAH
1.      Apakah yang dimaksud dengan Tari Ajat Temuai Datai?
2.      Bagaimana asal-usul ada nya Tari Ajat Temuai Datai?
3.      Apa saja peralatan dan perlengkapan yang diperlukan?
4.      Apa dan bagaimana proses penyambutan Tari Ajat Temuai Datai?

1.3  TUJUAN
1.      Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Tari Ajat Temuai Datai
2.      Untuk mengetahui asalnya Tari Ajat Temuai Datai
3.      Untuk mengetahui apa saja peralatan dan perlengkapan yang diperlukan dalam menari
4.      Untuk mengetahui bagaimana proses penyambutan Tarian Ajat Temuai Datai


1.4  MANFAAT
Manfaat yang dapat diperoleh dari makalah Ilmu Sosial Budaya Dasar yang berjudul “Tari Ajat Temuai Datai” mencakup beberapa hal yaitu pengertian, asal-usul Tari Ajar Temuai Datai, berbagai peralatan dan perlengkapan yang mendasar dalam proses tarian


















BAB II
PEMBAHASAN
2.1 PENGERTIAN TARI AJAT TEMUAI DATAI
Ajat Temuai Datai diangkat dari bahasa Dayak Mualang (Ibanic Group), yang tidak dapat diartikan secara langsung, karna terdapat kejanggalan jika di diartikan kata per kata. Tetapi maksudnya Ajat adalah persembahan / permohonan dengan menggelar ritual atau Upacara adat, kemudian Temuai artinya tamu dan Datai artinya datang. Jika disesuaikan dengan maksud tarian yaitu: tari yang didalamnya terdapat upacara adat dalam prosesi menyambut tamu atau tari Menyambut tamu. Tari ini bertujuan untuk penyambutan tamu yang datang atau tamu agung (diagungkan).
2.2 ASAL-USUL TARIAN
Awal lahirnya kesenian ini yakni dari masa pengayauan / masa lampau, di antara kelompok-kelompok suku Dayak. Mengayau, berasal dari kata me dan ngayau. Me berarti melakukan aksi dan ngayau berati pemenggalan kepala musuh, tindakan memenggal kepala musuh ( Mengayau terdapat dalam bahasa Dayak Iban dan Ibanik, juga pada masyarakat Dayak pada umumnya ). Tetapi jika mengayau mengandung pengertian khusus yakni suatu tindakan yang mencari kelompok lainnya (musuh) dengan cara menyerang dan memenggal kepala lawannya ( mengayau terdiri dari berbagai macam adatnya di antaranya Kayau banyau / ramai / serang, Kayau Anak yaitu: Mengayau dalam kelompok kecil, Kayau Beguyap yaitu: Mengayau tidak lebih dari tiga orang. Pada masyarakat Dayak Mualang dimasa lampau para pahlawan yang pulang dari pengayauan dan membawa bukti hasil Kayau berupa kepala manusia ( musuh ), merupakan tamu yang diagungkan serta dianggap sebagai seorang yang mampu menjadi pahlawan bagi kelompoknya. Oleh sebab itu diadakanlah upacara “Ajat Temuai Datai”. Masyarakat Dayak percaya bahwa pada kepala seseorang menyimpan suatu semangat ataupun kekuatan jiwa yang dapat melindungi si empunya dan sukunya.
 Menurut J, U. Lontaan (Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat 1974), ada empat tujuan dalam mengayau yakni: untuk melindungi pertanian, untuk mendapatkan tambahan daya jiwa, untuk balas dendam, dan sebagai daya tahan berdirinya suatu bangunan. Setelah mendapatkan hasil dari mengayau, para pahlawan tidak boleh memasuki wilayah kampungnya, tetapi dengan cara memberikan tanda dalam bahasa Dayak Mualang disebut Nyelaing (teriakan khas Dayak) yang berbunyi Heeih !, sebanyak tujuh kali yang berarti pahlawan pulang dan menang dalam pengayauan dan memperoleh kepala lawan yang masih segar. Jika teriakan tersebut hanya tiga kali berarti para pahlawan menang dalam berperang atau mengayau tetapi jatuh korban dipihaknya. Jika hanya sekali berarti para pahlawan tidak mendapatkan apa-apa dan tidak diadakan penyambutan khusus. Setelah memberikan tanda nyelaing, para pengayau mengirimkan utusan untuk menemui pimpinan ataupun kepala sukunya agar mempersiapkan acara penyambutan.

2.3  BENDA SEREMONIAL (PERALATAN & PERLENGKAPAN)
Ada pun berbagai peralatan yang disiapkan atau digunakan dalam tarian ini ialah sebagai berikut :
1.      Kostum tradisional dayak
Dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan maupun ritual tradisionalnya, Suku Dayak selalu mengenakan pakaian khusus sesuai dengan jenis upacara tersebut. Pakaian tradisional lelaki Iban terbahagi kepada dua iaitu kain sirat dan dandong. Kain Sirat dikenali juga sebagai kain cawat merupakan pakaian asas kaum Iban. Sirat dipakai dengan cara melilitnya dipinggang dan celah kelengkang. Sedangkan pakaian tradisional wanita terbahagi kepada tiga jenis iaitu bidang, kalambi dan bedong. Bidang merupakan sejenis kain sarung yang sempit dan panjangnya cuma separas lutut. Baju kaum Iban yang dipanggil kalambi pula ada dua jenis iaitu kalambi berlengan dan kalambi tanpa lengan. Wanita Iban juga memakai kain selendang yang panjang dan sempit. Kain selempang ini dikenali sebagai bedong, yaitu ia dihiasi oleh reka corak tenunan yang sangat halus.
Kostum atau pakaian yang digunakan oleh penari corak nya bermacam-macam, namun tetap pada motif yang khas. Walaupun motif dayak berbeda-beda, semua nya tetap didasarkan pada motif flora(tumbuhan), fauna(binatang) dan engkeramba(tenun). Motif flora seperti  ialah rotan, pucuk paku, pucuk rebung, buah-buahan, biji benih dan bunga-bungaan. Motif fauna antara lain seperti motif buaya, ular, katak, harimau dan tikus kasturi, rusa dan serangga.  Serta motif engkeramba yang  merupakan gambaran figura roh yang dikenali sebagai engkaramba ditenun dengan teknik ikat. Motif ini dipercayai berkuasa menghalang bencana atau kuasa jahat daripada menyerang tanam-tanaman dan penghuni rumah panjang.   Pada umum nya pakaian yang digunakan berwarna merah dan hitam, ada pula berbagai warna lain yang digunakan ialah kuning, putih, biru, hijau. Warna merah berarti berani, dan warna hitam berarti keteguhan dan keabadian, warna kuning berarti keluhuran dan kesetiaan, warna biru berarti ketenangan, warna putih berarti kesucian serta warna hijau berarti kesuburan dan kemakmuran.

2.      Mandau
Mandau merupakan senjata utama dan merupakan senjata turun temurun yang dianggap keramat. Bentuknya panjang dan selalu ada tanda ukiran baik dalam bentuk tatahan maupun hanya ukiran biasa. Mandau dibuat dari batu gunung, ditatah, diukir dengan emas/perak/tembaga dan dihiasi dengan bulu burung atau rambut manusia. Mandau mempunyai nama asli yang disebut “Mandau Ambang Birang Bitang Pono Ajun Kajau”, merupakan barang yang mempunyai nilai religius, karena dirawat dengan baik oleh pemiliknya. Batu-batuan yang sering dipakai sebagai bahan dasar pembuatan Mandau dimasa yang telah lalu yaitu: Batu Sanaman Mantikei, Batu Mujat atau batu Tengger, Batu Montalat.
3.      Alat Musik
Adapun alat musik yang umumnya digunakan ialah tawaq  dan  balikan/sapek. Tawaq merupakan  merupakan alat musik untuk mengiringi tarian tradisional masyarakat Dayak secara umum. Sedangkan balikan/sapek merupakan alat musik petik tradisional dari Kapuas hulu dikalangan masyarakat Dayak Kayaan Mendalam kabupaten Kapuas hulu. Pada masyarakat Uut Danum menyebutnya Konyahpik (bentuknya) agak berbeda sedikit dengan Sapek.
4.      Perisai
Perisai dayak merupakan suatu alat pertahanan diri bagi suku dayak, sehingga sebenarnya bentuk dan ukiran-ukairan yang ada pada perisai pada masanya, sangatlah jarang ditemukan karena fungsi dari perisai tersebut sebagai alat pertahanan diri sewaktu diserang, namun sekarang perisai lebih digunakan sebagai hiasan atau pajangan di rumah dan sekaligus sebagai identitas si empunya, namun tak jarang pula perisai ini di pajang karena si empunya menyukai keindahan dari perisai tersebut walaupun dia bukanlah seorang dayak, untuk memperlihatkan makna perisai yang sebenarnya dibuatlah ukiran-ukiran yang menarik dan memiliki arti, bahkan ada pula yang berpendapat ukiran pada perisai memiliki makna mistis sehingga ukiran yg terkandung pada perisai tersebut mampu melindungi pemakainya, atas dasar inilah perisai sangat disukai.
Kemudian ada pun berbagai perlengkapan yang dibutuhkan lainnya ialah seperti anting, gelang, mahkota, atupun tali yang ditenun untuk mengikat kepala serta tato untuk memperindah penampilan. Para penari terkadang menggunaan mahkota yang terbuat dari kulit kayu, manik-manik, bulu burung ruai dan kenyalang atau perunggu. Bulu burung ruai ini diyakini sebagai suatu keindahan oleh suku dayak iban, baik dalam bentuk tato maupun mahkota. Begitu juga dengan bulu burung kenyalang yang berarti melambangkan keperkasaan dan pemujaan, yang sebelum nya erat dengan budaya mengayau. Namun pada zaman dulu, makna tato pada tangan perempuan Kayan menandakan bahwa dia ketu runan seorang bangsawan dan pada jari tangan laki-laki orang Iban menandakan bahwa dia seorang satria pernah berperang. Adapun pelengkap lain yang diperlukan ialah seperti beras, bambu, telur, batu yang akan digunakan dalam prosesi penyambutan tamu agung.

2.4 Proses Tarian Penyambutan (Tarian)
Dalam tarian ini biasanya jumlah penari nya sekitar 4-5 orang yaitu  ada penari (pemuda) yang berpakaian perang, membawa sumpit, berjalan di belakang kelompok penari(wanita)   mempertunjukan tarian selamat datang, diriringi oleh tabuhan gong dan gendang. Ada pun Proses tarian (penyambutan) ini, melalui empat babak yakni:
1.      Ngunsai Beras
Pada proses ini biasanya seorang ketua adat atau pemimpin upacara menghamburkan beberapa beras kuning di depan para Ksatria  Pahlawan atau pun tamu sambil membacakan doa melalui perantaraan Sengalang Burong . Beras kuning adalah beras yang dilumuri dengan temu lawak, dan sebagai tanda untuk mengundang Petara. Ini merupakan simbol kekuasaan dewa. Burung-burung tersebut adalah: Papau, Ketupung, Beragai, Gemuas, Gegura’, Bejampung dan Pangkas. Sengalang Burung adalah sebagai pembawa pesan; ia akan membawa pesan apabila ia telah menerima pesan dari beras kuning. Sedangkan beras kuning adalah     penerima pesan pertama dari orang yang membacakan mantra. Proses penyampaian pesannya sebagai berikut: dari Manusia—>ke beras kuning—>ke Sengalang Burung—>ke Petara—>Petara datang menghadiri upacara. Sengalang Burung sebagai pembawa berita, menyampaikan berita pada Petara, mengundangnya turun ke bumi dan hadir dalam upacara.
2.      Mancong Buloh
Pada proses ini para penari membentuk lingkaran mengelilingi tamu dan pemimpin upacara. Sedangkan  Tamu agung atau ksatria yang menebaskan mandau / nyabor untuk memutuskan bambu (simbol pembatas) yang sengaja dilintangkan atau di empang di pintu masuk wilayah rumah panjai atau tempat dimana tamu atau ksatria tersebut datang. Setelah itu  tamu menghadap sebuah talam yang berisi air yang  bermakna kehidupan yang sejuk dan nyaman, tengang (akar kayu, tali yang kuat) dan tenayang tengang (alat untuk membuat tengang) yang menyimbolkan kekuatan dan umur yang panjang, batu: menyimbolkan kekuatan dan kekerasan. Mengartikan badan yang kuat dan pribadi yang teguh; tidak mudah dikalahkan atau mati; tidak   mudah dipengaruhi oleh roh jahat, dsb, lalu nasi yang menjadi makanan pokok memberikan kehidupan dan rejeki, telur: menyimbolkan perlindungan dan dilindungi; seperti isi telur yang berada di dalam dan dilindungi oleh sel nya, rotan Sega’: rotan yang panjang dan kuat, menyimbolkan hidup yang panjang dan kuat, serta tali tengang dan mpalaga (batu merah yang halus) diikatkan pada tangan kanan si tamu. Tengang menyimbolkan kehidupan yang kuat dan     panjang. Mpalaga menyimbolkan kemurnian pikiran. Si tamu meletakkan kakinya di atas batu, dan pemimpin upacara meletakkan tetesan air dari batu tersebut pada kepala tamu dan berkata:    “Semoga hidup anda senang bahagia dan mempunyai kesehatan yang baik”. Setelah itu pemimpin upacara meminta tamu untuk minum segelas beram atau tuak. Bagian ini menyimbolkan persahabatan, keramahtamahan dan    persatuan.
3.      Ngajat Ngiring Temuai
Kemudian para penari mengiringi tamu ataupun memandu tamu sampai kedepan tangga naik Rumah Panjai ( rumah panggung yang panjang ) proses ngiring temuai ini dilakukan dengan cara menari dan tarian ini dinamakan Ngajat Ngiring Temuai.
4.      Tama’ Bilik
Dalam proses ini tamu memasuki rumah panjai atau masuk ke tempat tertentu setelah merendam kakinya pada sebuah batu di dalam sebuah wadah sebagai simbol pencelap semengat. Sementara berjalan, pemimpin upacara    menghamburkan nasi sepanjang jalan masuk ke rumah. Hal ini menyimbolkan pembersihan jalan, menyingkirkan segala yang jahat: roh jahat dan maksud    jahat lainnya. Inilah bagian terakhir dari upacara.
Setelah melalui prosesi babak diatas, maka tamu diijinkan naik ke rumah panjang dengan maksud menyucikan diri dalam upacara yang disebut Mulai Semengat ( mengembalikan semangat perang ). Kemudian baru diadakan Gawai pala' acara ini untuk menghormati kepala hasil kayau, dan dalam acara ini terdapat beberapa tarian yang disebut: Tari Ayun Pala, Tari Pedang dll.
























BAB III
PENUTUP
3.1  KESIMPULAN
Tari Ajat Temuai Datai terdiri dari beberapa kata dalam pengertiannya, yaitu Ajat yang berarti persembahan / permohonan dengan menggelar ritual atau Upacara adat, kemudian Temuai artinya tamu dan Datai artinya datang. Jika disesuaikan dengan maksud tarian yaitu: tari yang didalamnya terdapat upacara adat dalam prosesi menyambut tamu atau tari Menyambut tamu. Tari ini bertujuan untuk penyambutan tamu yang datang atau tamu agung (diagungkan), yang awal mula nya dimaksud kan untuk menyambut para ksatria dayak yang telah ikut mengayau (tindakan yang mencari kelompok lainnya/musuhdengan cara menyerang dan memenggal kepala lawannya) berarti sebagai suatu kehormatan. Masyarakat Dayak percaya bahwa pada kepala seseorang menyimpan suatu semangat ataupun kekuatan jiwa yang dapat melindungi si empunya dan sukunya.

3.2  SARAN (TANGGAPAN)
Tarian Ajat Temuai Datai merupakan suatu budaya yang mengandung nilai sosial, seni dan sakral. Seperti yang kita ketahui, menyambut tamu, merupakan salah satu tanda kehidupan sosial yang menunjukan keramah tamahan, rasa hormat dan persahabatan dan pada sisi seni mereka telah memiliki kesenian dan kerajinan tangan seperti: tarian ini sendiri, ukiran dan  tenunan yang mereka gunakan. Dari sisi sakral ,mereka percaya pada Penguasa/dewa yang mereka sebut Petara yang mereka hormati dan mereka sembah melalui cara-cara yang unik dengan berbagai macam simbol pemujaan. Tarian ini dapat menjadi tambahan wawasan kita dalam proses belajar seperti bagaimana kita bersikap, menghormati sesama manusia dan kepercayaan kita.









1 komentar: